Senin, 05 April 2010

Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar

mempunyai satu pikiran utama,Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi pembicaraan (yakni, sesuai dengan lawan bicara, tempat pembicaraan, dan ragam pembicaraan) dan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia (seperti: sesuai dengan kaidah ejaan, pungtuasi, istilah, dan tata bahasa).

Pemakaian Kata dan Kalimat

Kata yang dipakai dalam Bahasa Indonesia adalah kata yang tepat dan serasi serta baku. Kata yang tepat dan serasi merupakan kata yang sesuai dengan gagasan atau maksud penutur atau sesuai dengan arti sesungguhnya dan sesuai dengan situasi pembicaraan (sepert: sesuai dengan lawan bicara, topik pembicaraan, ragam pembicaraan, dsb.). Kata yang baku merupakan kata yang sesuai dengan ejaan (yakni: EYD).

Kalimat yang dipakai dalam Bahasa Indonesia adalah kalimat yang efektif. Kalimat efektif harus :

  1. mudah dipahami oleh orang lain,
  2. memenuhi unsur penting kalimat (minimal ada subjek dan predikat, terutama untuk ragam tulis),
  3. menggunakan kata yang tepat dan serasi,
  4. gramatikal (seperti: menggunakan pungtuasi dan kata yang baku, menggunakan struktur yang benar, frasa selalu D-M, menggunakan kata yang morfologis, menggunakan kata yang sesuai dengan fungsinya/kedudukannya),
  5. rasional (yakni, menggunakan gagasan yang dapat dicerna oleh akal sehat),
  6. efisien (menggunakan unsur sesuai kebutuhan, tidak boleh berlebihan),
  7. tidak ambigu (tidak menimbulkan dua arti yang membingungkan).

Pemakaian Paragraf dalam Bahasa Indonesia

Paragraf yang dipakai dalam Bahasa Indonesia adalah paragraf yang baik. Paragraf ini harus :

  1. mempunyai satu pikiran utama,
  2. mempunyai koherensi yang baik (hubungan antar unsurnya sangat erat) dan semua unsurnya tersusun secara sistematis, serta
  3. menggunakan kalimat yang efektif.

Pola hubungan antara subjek dan predikat

Pola hubungan antara subjek dan predikat dalam mengolah penalaran dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu induktif, deduktif, dan induktif-deduktif.

Metode induktif

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

Metode deduktif

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh :

Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Metode Deduktif-Induktif

Metode berpikir Deduktif-Induktif adalah metode yang kalimat utamanya terdapat pada awal paragraph, dan juga di akhir paragraph.

Contoh :

Beberapa tips belajar menjelang Ujian Tengah Semester (UTS). Jangan dibiasakan belajar secara “dadakan”. Artinya belajar sehari atau mungkin beberapa jam sebelum ujian berlangsung. Belajarlah secara bertahap agar ilmu atau materi yang dipelajari dapat terserap dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal lalu mencocokannya, dan menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Oleh karena itu, maka sebaiknya para mahasiswa memperhatikan saat dosen sedang mengajar.

Dalam hal hubungan kelompok subjek dan kelompok predikat dalam proporsisi, terdapat beberepa jenis proporsisi yaitu :

1.

Semua S adalah semua P

Semua S adalah semua P

Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangkat yang terdapat dalam predikat.

Contoh Kalimat :

Semua sehat adalah semua tidak sakit.

2.

Semua S adalah P

Semua S adalah P

Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek menjadi bagian dari perangkat predikat.

Contoh Kalimat :

Semua sepeda beroda.

3.

Semua P adalah S

Semua P adalah S

Sebaliknya, suatu perangkat yang tercakup dalam predikat menjadi bagian dari perangkat subjek.

Contoh Kalimat :

Sebagian binatang adalah kera.

4.

Tidak satu pun S adalah P

Tidak satu pun S adalah P

Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat.Dengan kata lain , antara subjek dan predikat tidak terdapat relasi.

Contoh Kalimat :

Tidak seorang pun manusia adalah binatang.

5.

Sebagian S tidaklah P

Sebagian S tidaklah P

Sebalik perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat.

Contoh Kalimat :

Sebagian air tidak bersih.

Unsur-unsur Kalimat

Suatu pernyataan merupakan kalimat jika di dalam pernyataan itu sekurang-kurangnya terdapat predikat dan subjek, baik disertai objek, pelengkap, atau keterangan maupun tidak, bergantung kepada tipe verba predikat kalimat tersebut. Suatu untaian kata yang tidak memiliki predikat disebut frasa. Untuk menentukan predikat suatu kalimat, dapat dilakukan pemeriksaan apakah ada verba (kata kerja) dalam untaian kata itu [Sugo97]. Selain verba, predikat suatu kalimat dapat pula berupa adjektiva dan nomina.

Dalam bentuk lisan, unsur subjek dan predikat itu dipisahkan jeda yang ditandai oleh pergantian intonasi. Relasi antar kedua unsur ini dinamakan relasi predikatif, yaitu relasi yang memperlihatkan hubungan subjek dan predikat. Sebaliknya suatu unsur disebut frasa jika unsur itu terdiri dari dua kata atau lebih—tidak terdapat predikat di dalamnya—dan satu dari kata-kata itu sebagai inti serta yang lainnya sebagai pewatas atau penjelas. Biasanya frasa itu mengisi tempat subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan. Relasi kata yang menjadi inti dan kata yang menjadi pewatas/penjelas ini dinamakan sebagai atributif. Contohnya sebagai berikut.

Anak kecil itu // pandai sekali.

Unsur anak kecil itu (subjek) yang menjadi intinya adalah anak karena dalam unsur itu anak tidak dapat ditiadakan dan kata itu dapat mewakili unsur subjek. Demikian juga, pandai sekali intinya adalah pandai karena kata pandai tidak dapat ditiadakan dan kata itu dapat mewakili unsur predikat. Contoh di atas merupakan kalimat karena terdapat dua unsur yang menjadi syarat dari suatu kalimat. Rangkaian kata anak kecil itu mewakili unsur subjek, sedangkan pandai sekali mewakili unsur predikat.

Jika dituliskan, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Dengan kata lain, untaian kata yang diawali dengan huruf kapital pada kata pertama dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya adalah kalimat menurut pengertian kaidah ejaan.

Untuk mengecek apakah kalimat yang dihasilkan memenuhi syarat kaidah tata bahasa, perlu dikenal ciri-ciri subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Kalimat yang benar harus memiliki kelengkapan unsur kalimat. Selain itu pengenalan ciri-ciri unsur kalimat ini juga berperan untuk menguraikan kalimat atas unsur-unsurnya.

Soft Skills Bagi Mahasiswa

Soft skills adalah seperangkat kemampuan yang mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Soft skills memuat komunikasi efektif, berpikir kreatif dan kritis, membangun tim, serta kemampuan lainnya yang terkait kapasitas kepribadian individu. Tujuan dari pelatihan soft skills adalah memberikan kesempatan kepada individu untuk untuk mempelajari perilaku baru dan meningkatkan hubungan antar pribadi dengan orang lain. Soft skills memiliki banyak manfaat, misalnya pengembangan karir serta etika profesional. Dari sisi organisasional, soft skills memberikan dampak terhadap kualitas manajemen secara total, efektivitas institusional dan sinergi inovasi. Esensi soft skills adalah kesempatan. Lulusan memerlukan soft skills untuk membuka dan memanfaatkan kesempatan.

Sukses di dalam sebuah pekerjaan tidak hanya bergantung kepada rasio dan logika individu tetapi juga kapasitas kemanusiannya. Kemampuan yang dimiliki manusia dapat diibaratkan sebagai Gunung Es (Ice Berg). Yang nampak di luar permukaan air ialah kemampuan Hard Skill/ Technical Skill, sedangkan kemampuan yang berada di bawah permukaan air dan memiliki porsi yang paling besar ialah kemampuan Soft Skill. Soft skill merupakan kemampuan yang tidak tampak dan seringkali berhubungan dengan emosi manusia.

Banyak ditemukan hasil penelitian yang menunjukkan kesuksesan individu dalam bekerja dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian individu. Penelitian kemudian mengarah pada pertanyaan karakteristik kepribadian seperti apakah yang mendukung kesuksesan dalam bekerja. Dari banyak teori kepribadian, teori kepribadian lima faktor (five factors personality) banyak dipakai untuk meninjau kesuksesan dalam bekerja. Lima faktor kepribadian tersebut merupakan gambaran mengenai karakteristik khas individu yang unik dan relatif stabil. Lima faktor tersebut antara lain :

1. Ketahanan Pribadi (conscientiousness). Ketahanan pribadi ini ditunjukkan dengan karakter gigih, sistematis, pantang menyerah, motivasi tinggi dan tahan terhadap beban pekerjaan.
2. Ekstraversi (extraversion). Tipe kepribadian ini ditandai dengan keterampilan membina hubungan dan komunikasi yang efektif, pandai bergaul, bekerja sama, aktif, mengutamakan kerjasama, atraktif dan asertif (terbuka).
3. Keramahan (agreableness). Tipe ini ditandai dengan sikap ramah, rendah hati, tidak mau menunjukkan kelebihannya, mudah simpati, hangat, dapat dipercaya dan sopan.
4. Emosi Stabil (emotion stability). Tipe ini ditandai dengan sikap yang tenang, tidak mudah cemas dan tertekan, mudah menerima, tidak mudah marah dan percaya diri.
5. Keterbukan terhadap pengalaman (openess). Individu dengan tipe ini memiliki daya pikir yang imajinatif, menyukai tantangan, anti kemapanan, kreatif, kritis dan memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Soft skills memiliki banyak variasi yang di dalamnya termuat elemen-elemen. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis soft skills yang terkait dengan kesuksesan dalam dunia kerja berdasarkan dari hasil-hasil penelitian.

1.Kecerdasan Emosi. Melalui penelitian yang intensif Goleman (1998) menemukan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya didukung oleh seberapa smart seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan mendemonstrasikan keterampilannya, akan tetapi seberapa besar seseorang mampu mengelola dirinya dan interaksi dengan orang lain. Keterampilan tersebut dinamakan dengan kecerdasan emosi. Terminologi kecerdasan Emosi diperkenalkan pertama kali oleh Salovey dan Mayer untuk menyatakan kualitas-kualitas seseorang, seperti kemampuan memahami perasaan orang lain, empati, dan pengaturan emosi untuk meningkatkan kualitas hidup (Gibbs, 1995). Kecerdasan emosi juga meliputi sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain; dan kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan hidup.

2. Gaya Hidup Sehat. Marchand dkk (2005) menemukan bahwa uang jutaan dolar terbuang oleh institusi dan masyarakat karena faktor minimnya produktivitas, pelayanan kesehatan, kecelakaan kerja dan pegawai yang absen dalam bekerja. Pendukung utama dari sekian indikator tersebut adalah gaya hidup individu yang tidak sehat. University of Central Florida memasukkan tema gaya hidup sehat ini sebagai target pengembangan soft skills bagi mahasiswa mereka. Topik yang diangkat dalam pengembangannya memuat nutrisi, manajemen stres, pengelolaan waktu, cultural diversity, dan penyalahgunaan obat terlarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang sehat mempengaruhi tingginya ketahanan, fleksibiltas dan konsep diri yang sehat yang mempengaruhi tingginya partisipasi dalam komunitas.

3. Komunikasi Efektif. Cangelosi dan Petersen (1998) menemukan bahwa banyak kegagalan siswa di sekolah, masyarakat dan tempat kerja diakibatkan rendahnya keterampilan dalam berkomunikasi. Selain keterampilan komunikasi berperan secara langsung, peranan tidak langsung juga ditemukan. Secara tidak langsung keterampilan komunikasi mempengaruhi tingkat kepercayaan diri dan dukungan sosial yang kemudian dilanjutkan pengaruhnya ke kesuksesan. Soft skills memuat banyak jenis dan variasi. Institusi perlu menetapkan terlebih dahulu jenis soft skills yang dikembangkan. Eksplorasi hasil penelitian dan masukan dari alumni atau pakar dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk memilih soft skills mana yang akan ditingkatkan.

Dari penjelasan diatas, hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan pengguna lulusan yang menuntut bahwa mahasiswa harus mempunyai :
1.interpersonal skills;
2.team spirit;
3.social grace;
4.business etiquette;
5.negotiation skills;
6.behaviour traits such as attitude, motivation and time to approach either a training organisation or a training consultant.

Kamis, 31 Desember 2009

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya,Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.

Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn danMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan.

Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).

Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul "Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan".

Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas.

Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan suratputusannya No. 0196/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah".

Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:

  • 'tj' menjadi 'c' : tjutji → cuci
  • 'dj' menjadi 'j' : djarak → jarak
  • 'oe' menjadi 'u' : oemoem -> umum
  • 'j' menjadi 'y' : sajang → sayang
  • 'nj' menjadi 'ny' : njamuk → nyamuk
  • 'sj' menjadi 'sy' : sjarat → syarat
  • 'ch' menjadi 'kh' : achir → akhir
  • awalan 'di-' dan kata depan 'di' dibedakan penulisannya. Kata depan 'di' pada contoh "di rumah", "di sawah", penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara 'di-' pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring.

1. Penggunaan Huruf Besar atau Huruf Kapital
a. Huruf pertama kata ganti "Anda"
- Ke mana Anda mau pergi Bang Toyib?
- Saya sudah menyerahkan uang itu kepada Anda setahun yang lalu untuk dibelikan PS3.

b. Huruf pertama pada awal kalimat.
- Ayam kampus itu sudah ditertibkan oleh aparat pada malam jumat kliwon kemarin.
- Anak itu memang kurang ajar.
- Sinetron picisan itu sangat laku dan ditonton oleh jutaan pemirsanya sedunia.

c. Huruf pertama unsur nama orang
- Yusuf Bin Sanusi
- Albert Mangapin Sidabutar
- Slamet Warjoni Jaya Negara

d. Huruf pertama untuk penamaan geografi
- Bunderan Senayan
- Jalan Kramat Sentiong
- Sungai Ciliwung

e. Huruf pertama petikan langsung
- Pak kumis bertanya, "Siapa yang mencuri jambu klutuk di kebunku?"
- Si panjul menjawab, "Aku tidak Mencuri jambu klutuk, tetapi yang kucuri adalah jambu monyet".
- "Ngemeng aja lu", kata si Ucup kepada kawannya si Maskur.

f. Huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang atau instansi.
- Camat Pesanggrahan
- Profesor Zainudin Zidane Aliudin
- Sekretaris Jendral Departemen Pendidikan Nasional

g. Huruf Pertama pada nama Negara, Pemerintahan, Lembaga Negara, juga Dokumen (kecuali kata dan).
- Mahkamah Internasional
- Republik Rakyat Cina
- Badan Pengembang Ekspor Nasional

2. Tanda Koma (,)

a.

Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.


Misalnya:

· Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

· Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

· Satu, dua, ... tiga!

b.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.


Misalnya:

· Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

· Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

c.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.


Misalnya:

· Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

· Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

d.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.


Misalnya:

· Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

· Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

· Dia tahu bahwa soal itu penting.

e.

Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.


Misalnya:

· ... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

· ... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

f.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya,wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.


Misalnya:

· O, begitu?

· Wah, bukan main!

· Hati-hati, ya, nanti jatuh.

g.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya:


· Kata Ibu, "Saya gembira sekali."

· "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."

h.

Tanda koma dipakai di antara

(i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.


Misalnya:

· Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

· Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor

· Surabaya, 10 mei 1960

· Kuala Lumpur, Malaysia

i.

Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya:

· Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.



j.

Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya:

· W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.



k.

Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya:

· B. Ratulangi, S.E.

· Ny. Khadijah, M.A.



l.

Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.Misalnya:

· 12,5 m

· Rp12,50



m.

Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya

· Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

· Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

· Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.




Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:

· Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

n.

Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya:

· Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

· Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.




Bandingkan dengan:

· Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

· Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

o.

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya:

· "Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.

· "Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.



3. Tanda Titik (.)

a.

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.


Misalnya:

· Ayahku tinggal di Solo.

· Biarlah mereka duduk di sana.

· Dia menanyakan siapa yang akan datang.

· Hari ini tanggal 6 April 1973.

· Marilah kita mengheningkan cipta.

· Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

b.

Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya:

a.

III.

Departemen Dalam Negri

A.

Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa

B.

Direktorat Jendral Agraria

b.

1.

Patokan Umum


1.1

Isi Karangan


1.2

Ilustrasi



1.2.1

Gambar Tangan



1.2.2

Tabel



1.2.3

Grafik




Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

c.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya:

· pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)



d.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya:

· 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

· 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

· 0.0.30 jam (30 detik)



e.

Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.


Misalnya:

· Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

f.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.


Misalnya:

· Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

· Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.


Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya:

· Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

· Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

· Nomor gironya 5645678.



g.

Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.Misalnya:

· Acara Kunjungan Adam Malik

· Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD'45)

· Salah Asuhan



h.

Tanda titik tidak dipakai di belakang

(1) alamat pengirim dan tanggal surat atau
(2) nama dan alamat penerima surat.


Misalnya:

Jalan Diponegoro 82

Jakarta (tanpa titik)

1 April 1985 (tanpa titik)

Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)

Jalan Arif 43 (tanpa titik)

Palembang (tanpa titik)

Atau:

Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)

Jalan Cikini 71 (tanpa titik)

Jakarta (tanpa titik)

4. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya:

· Alangkah seramnya peristiwa itu!

· Bersihkan kamar itu sekarang juga!

· Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!

· Merdeka!

5.Tanda Hubung (–)

a.

Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris. Misalnya:

· Di samping cara-cara lama itu ada ju-

ga cara yang baru.




Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.


Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalah itu

telah disampaikan ....

Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau

beranjak ....

atau

Beberapa pendapat mengenai masalah

itu telah disampaikan ....

Walaupun sakit, mereka tetap tidak

mau beranjak ....

bukan

Beberapa pendapat mengenai masalah i-

tu telah disampaikan ....

Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-

u beranjak ....

b.

Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.


Misalnya:

· Kini ada cara yang baru untuk meng-

ukur panas.

· Kukuran baru ini memudahkan kita me-

ngukur kelapa.

· Senjata ini merupakan alat pertahan-

an yang canggih.


Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

c.

Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.


Misalnya:

· anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.


Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

d.

Tanda hubung menyambung huruf kata yang diejasatu-satu dan bagian-bagian tanggal.


Misalnya:

p-a-n-i-t-i-a

8-4-1973

e.

Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas

(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.


Misalnya:

· ber-evolusi

· dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)

· tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial


Bandingkan dengan:

· be-revolusi

· dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)

· tanggung jawab dan kesetiakawanan social

f.

Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan

(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap


Misalnya

· se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara

g.

Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.


Misalnya:

di-smash, pen-tackle-an

6. Tanda Titik Koma (;)

a.

Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya:

· Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.



b.

Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya:

· Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".



7. Tanda Tanya (?)

a.

Tanda tanya dipakai pada akhir tanya. Misalnya:

· Kapan ia berangkat?

· Saudara tahu, bukan?



b.

Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya:

Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.



8. Tanda Petik ("...")

a.

Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.Misalnya:

· "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"

· Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."



b.

Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya:

· Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

· Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.

· Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.



c.

Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:

· Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.

· Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".



d.

Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.


Misalnya:

· Kata Tono, "Saya juga minta satu."

e.

Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Misalnya:

· Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".

· Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.



Catatan:

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

9. Tanda Titik Dua (:)

a.

Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya:

· Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

· Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.




Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataanMisalnya:

· Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

· Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.



b.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.


Misalnya:

a.

Ketua
Sekretaris
Bendahara

:
:
:

Ahmad Wijaya
S. Handayani
B. Hartawan

b.

Tempat Sidang
Pengantar Acara
Hari
Waktu

:
:
:
:

Ruang 104
Bambang S.
Senin
09.30

c.

Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.


Misalnya:


Ibu

:

(meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"

Amir

:

"Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk)

Ibu

:

"Jangan lupa. Letakkan baik-baik!" (duduk di kursi besar)

d.

Tanda titik dua dipakai:

(i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
(iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.


Misalnya:

Tempo, I (1971), 34:7

Surah Yasin:9

Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.

Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.

10. Tanda Kurung ((...))

a.

Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.


Misalnya:

· Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

b.

Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.


Misalnya:

· Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

· Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.

c.

Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.


Misalnya:

· Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

· Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

d.

Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.


Misalnya:

· Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

11. Tanda Elipsis (...)

a.

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.


Misalnya:

· Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.

b.

Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.


Misalnya:

· Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.

Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....


12. Tanda Garis Miring (/)

a.

Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.


Misalnya:

No. 7/PK/1973

Jalan Kramat III/10

tahun anggaran 1985/1986

b.

Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau,tiap.


Misalnya:

dikirimkan lewat darat/laut

(dikirimkan lewat daratatau laut)

harganya Rp25,00/lembar

(harganya Rp25,00 tiaplembar)